09 October, 2011

Surat.


Hari ini makan malem lagi sama papa. 

Seperti biasa, dia ikut aja ke tempat yang gue suka. Lagi-lagi Pacific Place, lagi-lagi Pancious. Lagi-lagi hari sabtu. Lagi-lagi jam enam, dan lagi-lagi pulang jam delapan. Tapi tiga minggu lalu dan hari ini lebih spesial karena... karena tiga minggu lalu dan hari ini gue dan papa untuk pertama kalinya membicarakan eksistensi mama 20 tahun lalu. Dan kejadian waktu eksistensinya hilang dalam sekejap. 

Yah, itu kejadian yang gak pernah bisa gue lupain, terekam seperti video. Memorinya terpenjara di dalam cerebral cortex gue. Sempet makanin porsi hati sampai hampir mati. Sampai tiga minggu lalu gue berani ngomongin sama papa. Tentang mama, tentang gue, dan tentang papa

Apa yang terjadi buat gue, papa, dan keluarga emang gak mudah sama sekali. Kadang gue sempet ngerasa malu karena itu-itu lagi isu gue. Gak move on, istilahnya. :b Tapi tiga minggu lalu dan hari ini mengubah rasa sakit dan ngebawa  gue ke perspektif baru.

Tiga minggu lalu gue omongin struggle gue maafin mama yang menurut gue egois karena memilih untuk pergi. Tapi tiga minggu lalu itu juga gue ngerti dan bersimpati sama keadaan jiwanya yang emang gak stabil. 

Hari ini, seperti janji papa tiga minggu lalu, gue pegang surat kekuningan bertulisan tangan mama. Papa simpen itu surat yang ditulis sebelum mama meninggal. Karena papa udah wanti-wanti kalo-kalo gue nangis pas baca, gue pun nahan diri. Dan emang hampir nangis, tapi ditahan. Kan gengsi. *halah*

a letter she wrote before she died

Isi suratnya? Ehm. Terlalu pribadi untuk dibagiin di sini. Tapi ada yang bikin gue tumpah, yang mungkin gak papa kalau gue tulis di sini. Nama gue disebut 21 kali di suratnya yang dua halaman A4. 90% isi suratnya adalah tentang masa depan gue, gimana cara ngerawat gue, bahkan yang terasa bittersweet adalah bagian dimana mama dengan detail ngomongin makanan yang gue suka:

"Cia-cia harus sering dikasih ikan masak tomat salam sereh kasih udang + kepiting, cocol bumbu dia paling suka yaitu: kacang yang diulek pake bawang merah dan putih yang digoreng pake garem yang sedeng dan tambahin gula jawa sedikit pasti dia makan udangnya banyak."

Beneran surat bunuh diri yang kreatif. 

Anyhow, gue bersyukur, gue tau alesannya (meski gak rasional) adalah karena rasa sayang yang dipenuhi berton-ton depresi. 

Sekarang, gue terima apa yang udah terjadi. Tapi gue gak terima, apa yang bisa terjadi lagi. Mungkin, hal itu terjadi untuk gue belajar mengerti. Bahwa hidup emang bukan buat diri sendiri. Mungkin, gue ada untuk jadi yang terang saat terowongan gelap itu buntu. 

Gelap yang berubah jadi terang yang berubah jadi sayang yang berubah jadi harapan. Boleh ya, sekarang gue ucap, 

"Gue sayang mama."

baby me and mom. not a very good shot, though ;)


one of mom's painting

2 comments:

dweedy said...

Setidaknya ada surat perpisahan yang dapat dikenang :)

nich said...

kisahmu tentang mama selalu menarik dibaca, Vio

Related Posts with Thumbnails